Seni Pepaosan, Salah Satu Warisan Budaya di Lombok yang Penuh Keindahan

Pastinya daya tarik suatu tempat wisata tidak hanya berkaitan dengan pesona keindahan alamnya saja. Akan lebih seru lagi apabila Anda juga melihat wisata seni budaya yang berkembang di kawasan tersebut. Misalnya saja, pesona menarik Seni Pepaosan yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Apa itu seni pepaosan?

Seni Pepaosan adalah salah satu kesenian atau tradisi yang saat ini masih ada di Pulau Lombok khususnya dilakukan oleh Suku Sasak. Seni Pepaosan merupakan sebuah tradisi pembacaan daun lontar yang bertuliskan huruf jawa kuno dan memiliki arti. Saat ini keberadaan pemaos (penembang) sudah berkurang karena kurang ketertarikannya anak muda saat ini untuk belajar menembang atau menjadi pemaos.

Biasanya tulisan tersebut berisi tentang riwayat Nabi dan para sahabat Nabi. Adapun yang membacakan adalah beberapa orang diantaranya yaitu pemaos, penerjemah dan pendukung. Seorang pemaos (penembang) bertugas membaca lontar yang beraksara Sasak berbahasa Jawa, kemudian ada seorang pujangga (penerjemah) dan dua orang pendukung.

Mereka membaca dengan nada yang merdu dan sangat khas. Biasanya, penampilan mereka dilengkapi dengan sesajen yang ditempatkan dalam sebuah wadah yang terbuat dari kuningan.

Sekarang ini keberadaan pemaos sudah berkurang karena kurang ketertarikannya anak muda untuk belajar menembang. Masyarakat Bali juga dikenal seni semacam pepaosan yang disebut dengan Mabasan. Di masyarakat Jawa ada Macapat yang hampir mirip dengan pepaosan ini.

Bagi masyarakat Lombok, Lontar yang ditulis pada potongan daun ini merupakan warisan nenek moyang mereka. Tembang dalam Pepaosan adalah hasil cipta rasa dan karsa dalam mengungkapkan sebuah perasaan yang diatur dalam baris dan bait serta perpaduan antara aksara dan kidung. Tembang ini sangat terikat dengan kaidah dan ketentuan yang sangat baku dan tidak bisa diubah sesuai keinginan sendiri.

Seni Pepaosan, Salah Satu Warisan Budaya di Lombok yang Penuh Keindahan

Seni pepaosan biasanya dimulai saat malam hari dan berakhir pagi hari berikutnya dan dibaca diatas bale-bale. Pepaosan sering dilaksanakan untuk memperingati upacara adat seperti kelahiran bayi, khitanan, perkawinan, kematian maupun upacara-upacara yang berkaitan dengan hari besar Islam.

Dalam Pepaosan diceritakan kisah-kisah perjalanan dan kehidupan para Nabi beserta sahabatnya. Beberapa diantaranya seperti hikayat Siti Zubaidah, hikayat Saer Kubur, hikayat Nabi Haparas dan hikayat Bulan Belah, hikayat Nabi, seperti kisah Nabi Yusuf, hikayat Ali Hanafiah, hikayat Qamaruzzaman, dan hikayat lainnya.

Saat ini di museum NTB, sedikitnya sudah tersimpan sekitar 1350-an naskah lontar. Naskah-naskah yang tersimpan di museum ini cukup beragam. Ada lontar dengan judul Monyeh, Puspakerma, Amir Hamzah, Rengganis dan Jatiswara.

Pada upacara kelahiran bayi, judul lontar yang dilantunkan adalah Rengganis. Lontar jenis ini menceritakan tentang kehidupan seorang raja yang merawat bayi tanpa kehadiran istrinya. Dalam kisah itu diperlihatkan bagaimana kesabaran raja menguyahkan nasi untuk putrinya yang tidak mendapatkan air susu ibu. Pada acara khitanan bayi biasanya yang dilantunkan adalah lontar Kilabangkara. Lontar ini mengajarkan perilaku pemimpin yang baik.

Sekarang ini seni pepaosan mulai berkurang peminatnya. Untuk melestarikan tradisi Pepaosan ini, kini pemerintah Lombok dan instansi yang terkait sering mengadakan lomba Pepaosan bagi para murid sekolah dasar dan menengah.

Nah, bagi para traveler yang sedang berkunjung ke Lombok, dan ingin melihat lontar yang tersimpan di Museum NTB, langsung datang saja ke objek wisata di Lombok yang satu ini. Tepatnya ada di Jalan Panji Tilar Negara No.6 Mataram. Letaknya ada di pusat kota Lombok sehingga mudah dicapai dengan kendaraan umum maupun pribadi Anda.